Pajak / Tarif Pajak

Secara struktural menurut tarif pajak dibagi dalam empat jenis yaitu:

  1. Tarif proporsional(a proportional tax rate structure) yaitu tarif pajak yang presentasenya tetap meskipun terjadi perubahan dasar pengenaan pajak.Contoh:Pajak Pertambahan Nilai
  2. Tarif regresif / tetap (a regresive tax rate structure) yaitu tarif pajak akan selalu tetap sesuai peraturan yang telah ditetapkan
  3. Tarif progresif (a progresive tax rate structure) yaitu tarif pajak akan semakin naik sebanding dengan naiknya dasar pengenaan pajak. Contoh Pajak Pengahsilan
  4. Tarif degresif ( a degresive tax rate structure) yaitu kenaikan persentase tarif pajak akan semakin rendah ketika dasar pengenaan pajaknya semakin meningkat.

Tarif Pajak yang berlaku untuk Pajak Penghasilan di Indonesia adalah tarif progressif sebagaimana diatur dalam Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan. Sedangkan untuk Pajak Pertambahan Nilai berlaku tarif pajak proporsional yaitu 10%., Contoh Penentuan tarif pajak

  • Keterangan                 : Pajak Pertambahan Nilai
  • Tarif                             : 10%
  • Akun GL Penjualan     : 2150 Pajak Penjualan (Bisa di ganti dengan Pajak Keluaran, untuk PKP)
  • Akun GL Pembelian    : 2150 Pajak Penjualan (Bisa di ganti dengan Pajak Masukan, Untuk PKP)

Subjek Pajak / Grup

Subjek pajak merupakan orang, kesatuan, atau badan yang sudah memiliki syarat-syarat subjektif. Salah satu syarat tersebut adalah bertempat tinggal atau berdomisili di Indonesia serta berkedudukan di Indonesia. Subjek pajak bisa dikatakan wajib pajak jika ia telah memiliki syarat-syarat objektif. Subjek pajak tidak sama dengan subjek hukum sehingga agar bisa menjadi subjek pajak maka tidak harus menjadi subjek hukum.Sederhananya adalah Pelanggan atau Pemasok

  • Wajib Pajak (WP)
    • Perdagangan & Jasa
    • Expedisi
    • Importir
    • dll
  • Reguler (Sesuai Aturan Pemerintah/Pajak)

Objek Pajak / Tipe

Secara sederhana, objek pajak merupakan sumber pendapatan yang dikenakan pajak, Dasar pengenaan pajak merupakan istilah yang mengacu pada penggunaan nilai tertentu sebagai dasar perhitungan untuk menentukan besaran yang harus dipungut.(Barang/Jasa)

Objek pajak penghasilan atau PPh merupakan pendapatan yang diperoleh oleh wajib pajak. Pendapatan ini diperoleh melalui pembayaran pajak baik dari dalam maupun luar negeri, contohnya seperti di bawah ini:

  • Hadiah, pekerjaan, undian, maupun kegiatan sejenisnya
  • Penggantian maupun kompensasi yang masih ada kaitannya dengan pekerjaan maupun layanan yang diperoleh, termasuk di dalamnya gaji, tunjangan, upah, honorarium, bonus, gratifikasi, komisi, pensiun, atau bentuk kompensasi yang lainnya selain yang ditentukan oleh Undang – Undang Pajak Penghasilan.
  • Laba operasional
  • Laba yang diperoleh melalui pengalihan atau penjualan. Misalnya laba yang diperoleh dari pengalihan.
    Keuntungan yang diperoleh karena likuidasi, konsolidasi, merger, ekspansi, pengambilan dan penyelesaian bisnis.
  • Surplus Bank Indonesi.
  • Penghasilan yang diperoleh dari transaksi saham dan juga efek yang lain pada bursa efek.
  • Penghasilan dan juga pengalihan harta dalam bentuk tanah dan juga bangunan.
  • Royalti
  • Sewa dan juga pendapatan lain yang berkaitan dengan penggunaan aset.
  • Keuntungan yang didapatkan karena adanya perbedaan valuta asing.
  • Premi asuransi.
  • Jasa yang termasuk premi, hadiah, maupun diskon yang digunakan sebagai jaminan dalam pembayaran hutang.
  • Dividen dengan berdasarkan nama dalam bentuk apapun, termasuk di dalamnya deviden yang berasal dari perusahaan asuransi terhadap pemegang polis dan juga distribusi sisa hasil operasi koperasi.
  • Manfaat yang didapatkan dari perusahaan, kemitraan maupun entitas yang lain dikarenakan adanya pengalihan harta terhadap pemegang saham, anggota, maupun sekutu.

Contoh,

  • Keterangan  : PPN
  • Bebas Pajak Penuh : Tidak
  • Pilih tarif pajak,
    • Pertambahan Nilai : Ceklis
    • Pengirman             : Tanpa Ceklis

Cara Menghitung Pajak Penghasilan

Contoh Laba kotor (Dalam FA di sebut Calculated Return) tahun 2019 adalah 1.000.000.000;

  • Dasar Pengenaan Pajak
    • DPP = Laba Kotor (Calculated Return) X 50%
    • DPP = Rp. 1.000.000.000,- X 50%
    • DPP = Rp. 500.000.000,-
  • Pajak Penghasilan
    • PPh = DPP X 25%
    • PPh = Rp. 500.000.000, X 25%
    • PPh = Rp. 125.000.000,-

Jika sebelumnya selama tahun 2019 ada setoran atau angsuran pajak yang dibayarkan tiap bulan dengan total sebesar Rp. 100.000.000,- Maka Pajak Terutang sebesar Rp. 125.000.000,- dikurangi Rp. 100.000.000,- atau pajak terutang yang harus dibayarkan sebasar Rp. 25.000.000,-

Pajak terutang dapat di cicil setelah mendapat persetujuan dari kantor pajak setempat.