Beranda

Pedati

Pedati adalah alat transportasi darat (tradisional) yang ada di Jawa Barat,  yang dulu digunakan oleh Warga Jawa Barat sebelum kini terisisihkan oleh kendaraan modern seperti mobil dan sepeda motor.

Alat transportasi darat ini menggunakan sapi atau kerbau sebagai tenaga penariknya. Pada umumnya digunakan untuk mengakut beban berat, seperti bahan bangunan, hasil bumi dan sebagainya. Kereta barang ini dijalankan pada malam hari, agar tidak menggangu kelancaran lalu lintas.

Asal muasal : Kabupaten Indramayu.

Alat transportasi ini masih bisa dijumpai, walaupun sudah sangat langka. Bahkan, fungsinya cenderung sudah berubah. Pedati, umumnya beralih fungsi untuk menarik ataupun mengangkut barang-barang termasuk barang dagangan. Seperti yang bisa dikita temui di pelosok-pelosok kampung, dimana pedati digunakan untuk membawa barang seperti bambu, kayu untuk dijual berkeliling dari kampung ke kampung.

Filosofi

Filsafat yang tidak mengubah manusia dan tidak mengubah dunia, tidak banyak gunanya, Itulah sebabnya pujangga yang raja, Mangkunegara IV, menyatakan bahwa “ilmu (filsafat) itu terwujudnya lewat laku”. Di Sunda itulah yang disebut “lampah”. Hanya lampah, perbuatan nyata manusia, yang mengubah dunia ini. Tekad dan Ucap, keinginan dan pikiran, tidak akan mengubah apa pun kalau tidak dilaksanakan dalam perbuatan nyata. (Jakob Sumardjo:1987:45)

Mengacu pendapat di atas, filosofis pada pola yang terdapat pada Pedati  bahwa manusia itu perlu berlaku lampah untuk mengubah dunia, terbukti dengan yang dilakukan pengguna pedati ini, beliau ( Pangeran Cakrabuana) mampu mengubah dunia dengan menghasilkan karya berupa Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun di wilayah keraton kasepuhan Cirebon. Dari tekad dan ucap, keinginan dan pemikiran para Wali Cirebon yang berkeinginan membangun Masjid dan dilaksanakan dengan laku lampah mereka maka terwujudlah bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

  • Lembu

Lembu sebagai hewan penarik pedati, mempunyai kistimewaan dan karangter yang kuat, Lembu dapat berenang, lembu selalu tertib dalam membuang kotoran, salalu mudur kebelakang saat kencing atau pun membuang Kohe. Lembu akan hapal jalang pulang ke kandangnya, itulah sebabnya kusir pedati akan tidur di gerobak pedati saat pulang setelah selesai melaksanakan tugas mengantar barang ketujuan, tidak takut atau khawatir tersesat karena Lembu mempunyai insting yang luar biasa untuk mengenali tempat tinggalnya.

“Wong urip bakal ngalami kematian, mugio ketemu ruh lan sukmane supoyo ora lali dalan mulih nang asale kepanggih karo sing gawe utip’

orang hidup pasti mengalami kematian, berharap dapat menyatu atau bertemu kembali ruh dan jasadnya, agar tidak lupa jalan untuk kembali pulang ke asalnya ketemu dengan yang Maha Hidup.

  • Roda

Roda itu pasti bundar, dilambangkan sebagai keadilan, kebersamaan, dan keseimbangan. Roda memiliki poros yang [mutlak] tepat ditengah. untuk dapat berjalan dengan baik mengantarkan sampai tujuan, Itulah Qolbu, harus tetap hidup mengingat namaNya.

  • Jari-jari pada roda.

Jari-jari itu harus sama panjang, harus dikencangkan sedemikian rupa supaya dapat menjaga kestabilan roda. Itu bermakna Istiqomah. Tanpa Jari jari tentunya akan sulit menempatkan poros roda, ntuk melakukan hal-hal yang baik, atau kemampuan berbicara mengungkap kebenaran, menimbulakn kebaikan dan keindahan.

  • Lonceng (Kliningan)

Lonceng dapat berfungsi sebagai notifikasi (Pengingat), selakyanya manusia selalu ingat kepada penciptanya dalam keadaan apapun, seperti lonceng pedati yang selalu berbunyi lirih (Dzikir). Maka dalam bahasa indramayu klenengan atau kelingan (Pengingat), lebih jauh dikenal dengan “Eling Lan Waspodo”.